
Film
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Sunil Soraya
Review emosional film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013). Kejeniusan karya Buya Hamka, romantisme surat-suratan Zainuddin & Hayati, lukisan Permataku Jang Hilang, dan refleksi lagu Perunggu.
“Edan! 3 jam nonton bisa sangat sedih, relate, dan ditenggelamkan oleh kejeniusan Buya Hamka dalam menulis.”
Jujur gess, review jujur dari film ini cuma satu kata: EDAN! 😭
Nonton durasi hampir 3 jam ini bener-bener menguras emosi. Kita diajak sedih, relate, dan ditenggelamkan sepenuhnya oleh kejeniusan susastra Buya Hamka dalam merangkai roman klasik Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.


Diarahkan oleh sutradara Sunil Soraya dengan Herjunot Ali sebagai Zainuddin, Pevita Pearce sebagai Hayati, dan Reza Rahadian sebagai Aziz, film ini bukan sekadar roman biasa—ini adalah tragedi benturan adat, kelas sosial, dan keabadian cinta.
Romantisme Surat-Suratan & Pertemuan Puitis
Di bagian awal cerita, penonton diajak baper maksimal sama gaya surat-menyurat antara Zainuddin dan Hayati pas di Batipuh, Minangkabau. Bahasa puitis khas Pujangga Baru yang mereka rakit di atas kertas bener-bener indah dan bikin hati meleleh.


Tiap kali mereka bertemu di tepi sawah atau danau, obrolannya tuh puitis banget tanpa kerasa kaku. Penonton beneran diajak seru dan tenggelam dalam indahnya cinta muda mereka.
Saat Zainuddin Patah Hati: Terbaring 2 Bulan & Henna di Tangan Hayati
Tapi kebahagiaan itu dihancurkan oleh tembok adat Minangkabau. Zainuddin yang berdarah campuran (ayah Minang, ibu Menggala/Bugis) dianggap tidak beradat dan miskin, sementara Hayati dipaksa menikahi Aziz—pemuda borjuis berdarah murni Minang yang kaya tapi berhati dingin.
Pas tau Hayati menerima lamaran Aziz, Zainuddin jatuh depresi parah. Dia terbaring lemas di kasur selama 2 bulan, seperti orang linglung dan diguna-guna karena kehilangan separuh jiwanya.
Momen paling nyesek adalah pas Hayati datang menjenguk Zainuddin yang masih terbaring lemah. Hayati dengan serba salah memamerkan ukiran henna merah di jarinya—menunjukkan secara halus kalau dia sudah resmi jadi milik lelaki lain.
Sakit bukan main, kawan! Hati rasanya kayak diiris-iris pisau tumpul wkwkwk.
Scene Ikonik: Dancing On My Own
Ada satu scene di mana Zainuddin cuma bisa memandang Hayati dari kejauhan saat pesta:

Pas ngelihat adegan ini, di kepalaku langsung keputar lagu Dancing On My Own:
“I’m over here, why can’t you see me… I’m giving it my all, but I’m not the guy you’re taking home.”
Melihat orang yang paling kita cintai bersanding dengan orang lain tepat di depan mata kita sendiri… asli, gak ada rasa sakit yang lebih sepi dari itu.
Scene Paling Sedih: Lukisan “Permataku Jang Hilang”
Buatku pribadi, bagian paling bikin dada sesak adalah pas Bang Muluk membawa Hayati masuk ke dalam ruang kerja raksasa milik Zainuddin di Surabaya (yang kala itu sudah bangkit dan sukses menjadi penulis mashur bernama Tuan Shabir).
Di sana, Muluk menunjukkan sebuah lukisan raksasa sosok Hayati dengan tulisan di bawahnya: “Permataku Jang Hilang”.
Di momen itu Hayati baru tersadar sepenuhnya: meskipun dia sudah mengkhianati janji dan menikah dengan Aziz, nama Hayati tidak pernah bergeser sedikit pun dari takhta teratas hati Zainuddin. Cinta cowok itu abadi dan tidak pernah padam.
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Puncak tragedi terjadi saat kapal mewah Van der Wijck yang ditumpangi Hayati karam di perairan Lamongan. Hayati yang sekarat ditemukan dan dibawa ke rumah sakit, lalu meminta Zainuddin membacakan dua kalimat syahadat di pangkuannya di detik-detik terakhir nafasnya.
Jujur, pas nulis ulasan ini… aku bener-bener teringat sama pesan dari seseorang yang masih dan akan selalu aku simpan sampai sekarang:
“If you become my forever almost, kenang aku di lagu Perunggu, ya, Jar.”
Terus sekarang dia hilang… Hari-hari aku ngimpiin dia. Tau gak sih, gua kangen banget. Bisa bisanya nge wa lagi, dimana otaknya? dimana pikirannya? dimana tempatnya ? kapan, jam berapa? otww 😭
Kesimpulan
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah karya mahakarya sastra Indonesia yang dieksekusi dengan sangat indah di layar lebar. Film ini mengajarkan bahwa cinta sejati tidak pernah benar-benar mati—ia menjelma menjadi karya, doa, dan kenangan yang abadi walau raga tak lagi bersama.
- Kejeniusan Naskah & Hamka: 10 / 10
- Akting & Emosi: 10 / 10
- TRAUMA: 10 / 10
Rating: 5 / 5 (10/10 Auto Fav Indonesia).
Komentar
Memuat komentar…
Bergabung dalam percakapan
Pilih cara Anda ingin berkomentar.
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat.