← Semua artikel

Sejauh Ini di Usia 27: Akhirnya Angin Berpihak Padaku

Refleksi ulang tahun ke-27 tentang menemukan tempat di tim baru, merayakan diri sendiri, karier di Malaysia, dan belajar percaya pada jalan hidup yang tidak disangka-sangka.

Sejauh Ini di Usia 27: Akhirnya Angin Berpihak Padaku

Dua puluh tujuh ini tadinya kupikir bakal biasa aja. Tapi kalau diliat-liat lagi ke belakang, ternyata ini salah satu tahun yang cukup berbekas dalam hidupku.

Banyak hal yang terjadi. Mulai dari dapat promosi di kantor, pindah ke tim baru, sampai hal-hal sederhana yang belum pernah kurasain sebelumnya: dirayakan sama temen-temen kantor di luar keluarga sendiri.

Tentu ada juga bagian yang agak berliku, terutama soal perasaan dan cinta. Ada cerita indah yang datang, ada yang akhirnya nggak bertahan, dan aku masih belajar mencerna apa arti dari semua kejadian itu.

Tapi kalau dirangkum, umur 27 ini rasanya kayak momen saat potongan puzzle hidupku perlahan mulai nemu tempatnya masing-masing. Nggak selalu sesuai sama rencana yang kubuat di atas kertas sih, tapi mungkin justru sesuai sama skenario terbaik dari yang Maha Mengatur.

Hal-hal yang kucover pada tulisan ini:

  • 🥳 Genap berusia 27 tahun
  • 🍜 Merayakan ulang tahun sendirian makan Mi Tarik Sultan
  • 📚 Jalan-jalan ke Toko Buku Excess & papan harapan QPocket di Pasar Seni
  • 🕌 Kontemplasi dan doa di Masjid Al-Sultan Abdullah dekat Stadium Merdeka
  • 🎂 Kejutan ulang tahun dari tim kantor
  • 🎮 Mendapat promosi di bulan Juni jadi Acting Game Master
  • 💬 Terbiasa komunikasi pake bahasa Inggris tiap hari bareng tim yang beragam
  • ❤️ She Comeback ( i think ? )
  • ✍️ Terus nulis dan mendokumentasikan perjalanan hidup
  • 🧒 Menyapa anak kecil dalam diriku supaya nggak hilang

Karier: “Ternyata aku bisa ya”

Jujur, umur 27 jadi titik penting banget buat perjalanan karierku. Aku masih bertahan di Malaysia, tapi tahun ini dapat kepercayaan buat jalanin peran baru sebagai Acting Game Master.

Kalau diingat-ingat lagi waktu kecil yang sukanya cuma main game doang, sekarang malah kerjanya di industri game. Bukan cuma sekadar main, tapi ngurusin sistem, dinamika orang-orang, dan situasi di dalam game itu sendiri. Rasanya agak lucu tapi bikin bersyukur juga.

Proses promosinya jujur nggak gampang, banyak hal yang memaksaku keluar dari zona nyaman. Tapi pas udah sampai di titik ini, hal paling berharga yang kudapat bukan cuma sekadar judul jabatannya. Melainkan bisikan kecil di dalam hati:

“Ternyata aku bisa ya.”

Awalnya sangat kaku dan shock sih, apalagi tiap hari harus komunikasi pake bahasa Inggris sama orang-orang dengan background yang beda-beda. Belum terbiasa, iya, sangat aneh rasanya kalau di ingat lagi. Di titik ini, aku mau ngucapin terima kasih khusus buat Natalia Bukamo, mantan Team Lead-ku di posisi sebelumnya. Support, masukan, dan dorongan dari beliau bener-bener punya andil besar membantuku sampai di titik ini.

Target berikutnya: Finlandia

Habis ini targetnya apa? Finlandia.

Aku pengen banget bisa berkembang sampai ke tingkat Account Recovery Expert, dan impian terbesarku adalah dapat kesempatan kerja langsung bareng tim HQ di Helsinki. Kedengarannya mungkin agak kejauhan atau ketinggian, tapi ya justru itu yang bikin bersemangat. Yah, Mimpi tidak bayar bukan? Ada H-RV yang harus dikejar, ada tujuan yang harus diwujudkan, ada niat baik yang harus disegerakan, ahahaha.

Sedikit intermezzo aja, dulunya aku berencana ke Jepang, tapi malah sekarang diperjalankan Tuhan di Malaysia, Haha.

Waktu umur 25 dulu, aku sudah yakin banget tujuan berikutnya adalah Jepang. Sudah bayar LPK, sudah persiapan macam-macam, pokoknya mindset-nya udah ke sana.

Tapi ya itu tadi, manusia berencana, Tuhan punya jalan lain. Takdir malah membawaku ke Malaysia.

Dan kalau direfleksikan sekarang, ternyata ini bukan keputusan yang salah. Aku bisa dapat penghasilan yang jauh lebih baik dari bayanganku dulu, belajar hidup mandiri, mengasah kemampuan bahasa Inggris tiap hari, dan ngebangun karier yang sama sekali nggak pernah ada di draf rencana masa mudaku.

Kadang hal yang kita sangka jalan memutar, ternyata justru itu jalan utama yang emang harus kita tempuh.

Hai, Fajar kecil!

Mungkin orang ngelihat aku udah makin dewasa atau serius. Tapi jujur aja, di dalam sini aku merasa masih kayak anak kecil yang dulu.

Aku masih suka hal-hal yang lucu, senang main game, hobi membaca, nulis blog kayak gini, atau sesekali khilaf beli barang-barang nggak penting di online shop cuma gara-gara bikin seneng dan keliatan lucu.

Dulu waktu zaman main Ragnarok, aku bisa duduk berjam-jam cuma demi kesenangan murni. Rela ngabisin uang saku buat beli cash item biar karakternya kelihatan keren. Nggak ada mikirin produktivitas, nggak ada hubungannya sama karier, apalagi rencana 5 tahunan. Cuma murni cari bahagia.

Dan aku nggak mau kehilangan sisi itu. Aku pengen jadi orang dewasa yang bisa kerja keras, bisa nabung, ngebangun karier, tapi malamnya masih bisa santai baca manhwa. Tetap bisa main game, bersemangat gara-gara hal sepele, dan menolak jadi orang tua yang membosankan cuma gara-gara angka umur bertambah.

Kehidupan yang dulu kubayangkan

Kalau ditarik ke belakang, bayangan hidupku tuh beda banget:

  • Umur 17: Bayanganku simpel, pengen jadi guru TIK, nikah umur 25-an, hidup tenang dan sederhana.
  • Umur 20: Pas kuliah Manajemen Bisnis, mikirnya pengen jadi dosen manajemen atau pengusaha.
  • Umur 25: dapat offer kerja ke Malaysia “HEH - HOH”.

Sekarang di umur 27, posisiku jauh banget dari apa yang kucita-citakan waktu umur 17 tahun dulu.

Tapi aku nggak merasa tersesat. Aku cuma lagi menelusuri jalan baru yang belum pernah ada di petaku sebelumnya—dengan kompas yang mungkin agak rusak, tapi tetap membawaku jalan ke depan. Dan itu nggak apa-apa banget.

Mimpi buat ngajar juga sebenarnya nggak pernah mati. Siapa tahu suatu saat nanti aku tetap bisa buka kursus atau kelas komputer kecil di rumah. Mimpi itu nggak hilang, cuma ganti bentuk aja.

Ulang Tahun, dan Kejutan dari arah yang tidak disangka-sangka

Kejutan manis dari tim kantor

Bagian ini jujur jadi salah satu momen terfavoritku di umur 27.

Selama ini aku tipe orang yang lebih nyaman merayakan orang lain. Lihat orang lain senang tuh udah cukup banget buatku. Jadi pas temen-temen tim baruku ngasih surprise ulang tahun, aku beneran bingung dan ngeblank. Belum pernah dirayakan sebelumnya, aku bingung expresi apa yang harusnya keluar dari dalam diri aku. Yah, tentu saja, jadinya apa? Yak, benar, nangis ahaha.

Awalnya, aku ga kepikiran bakalan ada kejutan gitu di kantor. Jadwal pada hari itu adalah metting global calibration biasa. Aku bahkan sempat bertanya pada mereka setelah kejutan tersebut terjadi:

“I thought today is global calibration meeting.”

Terus mereka cuma senyum sambil jawab:

“It is.”

Secara teknis emang bener sih meeting, tapi ternyata di dalamnya ada momen khusus yang mereka siapin buat merayakan ulang tahunku.

Rasanya seneng banget, terharu, sekaligus agak overwhelmed. Buat pertama kalinya di luar lingkungan keluarga, aku ngerasain gimana rasanya diingat dan dirayakan dengan tulus sama sekelompok orang di tempat kerja.

Foto perayaan ulang tahun bersama tim di kantor

Di situ aku sempat berkaca-kaca karena sadar: ternyata aku punya tempat dan diterima di sini.

Dating myself: Makan Mi Tarik Sultan

Sebelum momen perayaan di kantor itu, pas hari H ulang tahun, aku sempet ngajak diriku sendiri jalan-jalan dan makan di Mie Tarik Sultan.

Bener-bener sendirian. Aku cuma pengen makan enak tanpa perlu jaga gengsi. Mau nambah porsi? Boleh. Mau foto-foto makanan? Bebas. Makan pelan-pelan sambil ngelamun? Nggak ada yang ngelarang. Mau duduk seharian disanapun, juga gamasalah.

Merayakan ulang tahun sendiri di Mie Tarik Sultan

Mangkuk mi di Mie Tarik Sultan

Sebagai seorang ekstrover, makan sendiri di hari ulang tahun jujur ada rasa sepinya dikit. Pikiran sempat melayang ingat keluarga di rumah.

Tapi di balik itu, itu momen solo date yang hangat. Aku belajar bahwa itu ini adalah cara yang tenang buat berterima kasih dan meluangkan waktu buat diri sendiri.

Singgah di Toko Buku Excess & Papan Harapan QPocket

Selesai makan mi, aku lanjut jalan kaki nyusuri area Pasar Seni. Aku mampir ke Excess Book Store (Toko Buku Excess) di Pasar Seni. Rasanya pas banget merayakan hari ini dengan tenggelam sebentar di antara deretan buku dan suasana toko yang tenang.

Mengunjungi Toko Buku Excess di Pasar Seni

Nggak jauh dari situ, aku juga sempat mampir di papan harapan QPocket. Di sana aku ngeliat banyak banget kertas harapan dari orang-orang, lalu ikut nulisin doa dan impian kecilku sendiri buat menyambut lembaran usia 27 ini.

Singgah di papan harapan QPocket Pasar Seni

Refleksi dan Doa di Masjid Al-Sultan Abdullah

Menjelang sore untuk menutup perjalanan perayaan kecil ini, aku melangkahkan kaki mampir ke Masjid Al-Sultan Abdullah di area Presint Merdeka 118 / Jalan Stadium, nggak jauh dari kawasan Pasar Seni dan Stadium Merdeka.

Di masjid yang tenang dan adem ini, aku mengambil wudu, sholat, dan duduk sebentar buat kontemplasi. Berbicara sama Sang Pemilik Skenario, merefleksikan semua jalan berliku yang udah dilalui, dan menguraikan doa serta rasa syukur karena masih diberi kesempatan bernapas dan melangkah di usia 27 tahun ini.

Mampir di Masjid Al-Sultan Abdullah dekat Stadium Merdeka untuk refleksi dan doa

Relationship? hehehehe

Ini bagian di usia 27 yang jujur paling sulit buat dicerna.

Seseorang yang pernah telah absen dari hidupku tiba-tiba datang kembali. Yah bisa dibilang aku orang yang mungkin sangat sulit untuk move on ya. Apalagi pada orang yang aku emang suka duluan, kena sihir oleh indah matanya, manis lesung pipinya, cara dia tertawa, dan cerdas pemikirannya. 10/10 bagiku lah, yayayayahahhaha. Sekitar hampir 1 tahun, kita lost contact, tiba tiba dia datang kembali untuk menyapa. Untuk beberapa saat, semuanya terasa begitu cerah. Kami ngobrol lagi, kembali dekat, ngebayangin banyak hal, dan aku membiarkan hatiku menaruh harapan lagi.

Yah, aku tidak bisa share terlalu banyak tentang hal ini, namun, mungkin satu yang dapat aku bagikan ke kalian.

“Sejak mengenalnya, perjuangan ini bukan lagi sekadar mencari, melainkan belajar memantaskan diri.”

Ah, nanti gimana ya kedepannya. Oh, God, i trust you, ya muqollibal qulub. Ini Abadi.

Ibuk - Adik - Keluarga

Di atas segalanya, keluarga tetap jadi benteng dan tempat paling aman buat pulang: Ibu, adik-adikku, dan almarhum Bapak yang sudah mendahului kami di tahun 2023 lalu.

Meski terhalang jarak, kami selalu menyempatkan diri merayakan ulang tahun bersama. Walau hanya lewat layar, rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia dan bersyukur. Mengetahui bahwa aku masih punya tempat untuk pulang dan orang-orang yang peduli sudah lebih dari segalanya.

Video call merayakan ulang tahun bersama keluarga

Kadang kalau lagi melamun sendirian, aku sering ngebayangin andai Bapak masih ada dan melihat sejauh mana anak laki-lakinya ini sudah melangkah. Kalau bisa ngobrol sebentar aja sama beliau di usia 27 ini, aku cuma pengen bilang:

“Pak, Sangarkan anakmu pertama? Tolong dibantu - bantu lagi ya Pak, kedepannya.”

Belum sempurna, belum jadi siapa-siapa yang hebat banget, tapi sudah bisa bertahan dan bertanggung jawab. Dan kurasa, itu sudah lebih dari cukup.


Catatan refleksi 27

  • 1 tim baru yang hangat dan solid
  • 1 punya target kendaraan dan niat baik yang harus diperjuangkan
  • 1 target besar menuju Finlandia
  • rasa syukur atas tiap helai napas dan kesempatan

Hal-hal sederhana yang makin diresapi di usia 27:

  1. Ternyata aku mampu melewati hal-hal yang dulu kutakutkan.
  2. Uang itu penting banget, tapi ketenangan hati jauh lebih mahal.
  3. Rezeki itu sering datang dari pintu yang nggak pernah kita duga-duga.
  4. Jalan memutar itu bukan berarti tersesat, bisa jadi dihindarkan dari bencana di jalur utama.
  5. Hidup mandiri itu nempa mental jadi lebih tangguh.
  6. Menjadi dewasa bukan berarti harus jadi orang yang kaku dan membosankan.
  7. Impian buat ngajar dan berbagi ilmu bakal tetap ada.
  8. Rasa ingin tahu itu yang bikin kita tetap merasa hidup.
  9. Nulis adalah cara terbaik buat merapikan pikiran yang berantakan dan biar kita tetap ingat.
  10. Menikmati waktu sendirian itu sebuah keterampilan yang menenangkan.
  11. Diingat dan didoakan orang lain itu berkah luar biasa.
  12. Berdamai dengan takdir bikin langkah jadi lebih ringan.
  13. Nggak apa-apa kalau belum tahu semua jawaban atas masa depan.
  14. Menjaga sisi anak kecil di dalam diri agar tidak padam oleh kerasnya dunia.

Menyambut langkah berikutnya

Usia 27 jelas jauh dari kata sempurna, tapi aku bersyukur banget buat tahun ini.

Banyak berkah yang tak terduga: peran baru di pekerjaan, tim yang suportif, pengalaman merantau, serta momen-momen ulang tahun yang berkesan. Aku juga makin paham bahwa banyak hal di dunia ini yang berada di luar kendaliku. Dan nggak apa-apa, tugas kita cuma melakukan yang terbaik dan memasrahkan sisanya.

Jadi di sinilah aku sekarang. Masih hobi membaca, masih suka menulis, masih main game, masih penasaran sama hal-hal baru, masih punya mimpi ke Finlandia, dan masih menavigasi hidup dengan kompas yang terus kutempa tiap hari.

Nggak tahu pasti nanti ombak bakal membawa ke mana. Tapi yang jelas, aku siap melangkah lagi.

Bismillah, less goooo, who knows where life will take you, is it??

  • Ini Abadi, Perunggu

Komentar